Sabtu, 05 Oktober 2019

MEDIA PEMBELAJARAN


Uraian Materi
Pengalaman empirik observasi di sekolah, dan diskusi dengan Guru, ketika hasil belajar peserta didik tidak memenuhi target yang diinginkan, pasti peserta didik sering menjadi kambing hitam. Keluhan yang disampaikan, seperti peserta didik kurang memperhatikan ketiga guru menerangkan pelajaran, peserta didik tidak dapat konsentrasi menerima pelajaran dalam 90 menit, peserta didik lebih sering berbicara dengan teman dekatnya, dlsb. Keadaan tersebut memang bisa terjadi. Tetapi sudahkan pada guru kelas atau guru mata pelajaran melakukan refleksi diri terhadap kerja profesi sebagai pendidik profesional? Apakah para guru telah menyiapkan segenap kemampuan pedagogik dalam mengajar peserta didik?
Selaras dengan tuntutan profesi sebagai pendidik, guru memiliki empat kompetensi (kepribadian, profesional,  pedagogik, dan  sosial).  Kemampuan mengembangkan  dan memanfaatkan media pembelajaran merupakan salah satu aspek kewajiban yang diemban guru untuk mengembangkan kompetensi pedagogik, pada gilirannya dapat meningkatkan aktivitas belajar lebih menarik, dan motivasi peserta didik. 
A. Persepsi
Setiap peserta didik tentu memiliki pandangan atau pendapatnya masing-masing di 
dalam melihat atau mendengar pesan (materi ajar) yang disampai guru (atau sumber belajar 
lainnya). Perbedaan pendapat serta pandangan ini tentu saja akan ditindaklanjuti dengan 
respon dan tindakan peserta didik yang berbeda. Konsep ini yang disebut dengan persepsi. 
Persepsi dari peserta didik terhadap materi ajar akan menentukan bagaimana caranya 
memandang sebuah mata pelajaran. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi persepsi
seorang peserta didik, antara lain:
  1. Pengamatan, penginterpretasikan dari apa yang dilihat dan didengar oleh seseorang peserta didik tergantung dari karakteristik pribadi yang dimilikinya,
  2. Motif, alasan yang berada di balik tindakan yang telah dilakukan oleh seseorang peserta didik  yang mana mampu menstimulasi serta memberikan pengaruh yang cukup kuat kepada pembentukan persepsi seseorang akan segala sesuatu yang ada. 
  3. Sikap atau attitude yang dimiliki seseorang juga akan mempengaruhi sebuah persepsi yang dibentuknya mengenai hal-hal yang ada di sekitarnya. 
  4. Pengalaman, pengetahuan,  ataupun kejadian sebagai pengalaman yang sudah pernah dialami seseorang peserta didik,  
  5. Ketertarikan atau interest, fokus perhatian seseorang peserta didik pada hal-hal yang sedang dihadapinya, sehingga membuat persepsi seseorang menjadi berbeda beda satusama lainnya. 
  6. Harapan atau ekspektasi, merupakan gambaran atau deskripsi yang dapat membentuksebuah pencitraan kondisi belajar.

Persepsi merupakan suatu proses yang bersifat kompleks yang menyebabkan peserta didik dapat menerima dan/atau meringkas informasi yang diperolehnya dari lingkungan dan pengalaman belajar (Fleming & Levie, 1981). Semua proses menerima pesan atau informasi selalu di awali dengan persepsi setelah peserta didik menerima suatu stimulus atau pola stimuli dari lingkunganpembelajaran. Karenanya persepsi dianggap sebagai tingkat awal struktur kognitif seseorang peserta didik. Persepsi bersifat: 
1.  relatif, tidak absolut, tergantung pada pengalaman sebelumnya yang relevan, 
2.  selektif, tergantung pada pengalaman sebelumnya, minat, kebutuhan dan kemampuan 
peserta didik untuk mengadakan persepsi, dan 
3.  sesuatu yang tidak teratur akan sukar dipersepsikan. Suatu objek akan dapat 
dipersepsikan dengan baik apabila objek tersebut lebih menonjol dibandingkan dengan 
lingkungannya. 
Sejak awal menerima materi ajar, peserta didik sudah menangkap rangsangan 
(stimulus)  untuk dipersepsikan  (seakurat mungkin)  apa yang diajarkan guru. Kesalahan 
dalam mempersepsi materi ajar, seringkali terjadi karena penyajian materi ajar terlalu banyak 
pada kurun waktu tertentu, atau karena pengamatan (observasi) yang dilakukan peserta didik 
terlalu cepat dan tidak teliti. Sekali peserta didik mempunyai persepsi yang salah materi ajar
yang disajikan guru, maka untuk selanjutnya akan sukar mengubah persepsi tadi, dengan 
demikian peserta didik juga akan mempunyai struktur kognitif yang salah (Lawther, 1977). 
Agar dapat kemampuan untuk mengadakan persepsi  efektif, maka  harus dikembangkan 
kebiasaan (habit) peserta didik untuk belajar. Untuk membentuk persepsi yang akurat serta 
mengembangkannya menjadi suatu kebiasaan, perlu adanya strategi  pembelajaran yang 
bervariasi  (tidak monoton). Pengembangan strategi pembelajaran,  sangat ditentukan 
kemampuan guru dalam memilih dan menentukan metode dan media pembelajaran. 
B.  Peran Media Dalam Komunikasi Pembelajaran
Media adalah kata jamak dari medium, yang artinya perantara. Dalam proses 
komunikasi pembelajaran, media hanyalah satu dari empat komponen yang harus ada. 
Komponen tersebut, yaitu : sumber pesan, media pembelajaran, metode pembelajaran, dan 
3
penerima pesan. Seandainya satu dari keempat komponen tersebut tidak ada, maka 
komunikasi pembelajaran tidak optimal. Interaksi dan saling ketergantungan keempat 
komponen dapat divisualkan seperti Gambar 1. Media pembelajaran harus diimplementasikan 
secara simultan bersama metode pembelajaran oleh sumber pesan (guru), sehingga sumber 
pesan (materi ajar) dapat diterima oleh penerima pesan (peserta didik) secara efisien dan 
efektif. 
Gambar 1, menunjukkan bahwa konsep sumber pesan atau penerima pesan adalah 
konsep relatif. Artinya, di suatu saat seseorang guru dapat berperan sebagai sumber pesan
(menyampaikan materi ajar), namun pada saat lain (atau pada tempat yang berbeda), guru 
bisa juga menjadi penerima pesan (menerima respon peserta didik). Pembelajaran abad 21, 
guru lebih dominan berperan sebagai fasilitator belajar peserta didik. Guru memfasilitasi 
peserta didik untuk berkomunikasi dengan banyak sumber belajar dalam lingkungan belajar 
yang terencana. 
Sumber Pesan
Penerima Pesan
Media 
Pembelajaran
Penerima Pesan
Sumber Pesan
Metode 
Pembelajaran
Gambar 1. Proses Komunikasi Dalam Pembelajaran
Kualitas pembelajaran dipengaruhi oleh efektif tidaknya komunikasi yang terjadi di 
dalamnya. Komunikasi efektif dalam pembelajaran merupakan proses transformasi pesan 
berupa ilmu pengetahuan dan teknologi dari pendidik (guru) kepada peserta didik, dimana 
peserta didik mampu memahami maksud pesan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah 
ditentukan, sehingga terjadi perubahan tingkah laku menjadi lebih baik. Dengan demikian, 
guru adalah pihak yang paling bertanggungjawab terhadap berlangsungnya komunikasi yang 
efektif dalam pembelajaran, sehingga guru dituntut memiliki kemampuan berkomunikasi 
yang baik agar menghasilkan proses pembelajaran yang efektif.
Dengan mentransformasi konsep Lasswell  (1972)  menekankan bahwa komunikasi 
pembelajaran meliputi lima unsur , meliputi: 
4
1.  Komunikator (communicator, source, sender). Komunikator (guru) merupakan sumber dan 
pengirim pesan. Kompetensi komunikator (guru) yang membuat komunikan  (peserta 
didik) percaya terhadap isi pesan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan komunikasi.
2.  Pesan (message). Pesan harus memiliki daya tarik tersendiri, sesuai dengan kebutuhan 
komunikan (peserta didik), dan ada peran pesan dalam memenuhi kebutuhan komunikan. 
Pesan dapat dirancang berupa Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), handout, wallchart, 
jobsheet, program video instruksional, program multimedia pembelajaran, dlsb.
3.  Media (channel, media). Sistem penyampaian berkaitan dengan media dan metode. Media 
dan metode yang digunakan dalam proses komunikasi harus disesuaikan dengan strategi 
pembelajaran, karakteristik komunikan (peserta didik), dan tujuan pembelajaran.
4.  Komunikan (communicant, communicate, receiver, recipient). Agar komunikasi (peserta 
didik) berjalan lancar, peserta didik harus mampu menafsirkan pesan, sadar bahwa pesan 
sesuai dengan kebutuhannya, dan harus ada perhatian terhadap pesan yang diterima.
5.  Efek (effect, impact, influence). Terjadinya efek dalam suatu proses komunikasi dalam 
pembelajaran sangat tergantung dari guru dalam penyampaian materi serta kebutuhan 
peserta  didik.  Dalam pembelajaran, efek dirancang guru dalam bentuk tujuan 
pembelajaran.
Dalam pembelajaran berpusat pada guru (teacher center learning), media dan teknologi 
digunakan untuk membantu komunikasi pembelajaran. Misalnya papan tulis elektronik 
dimanfaatkan guru untuk menampilkan berbagai visual pertumbuhan penduduk Indonesia. 
Dalam pembelajaran berpusat pada peserta didik (student center learning), pengguna utama 
media dan teknologi adalah peserta didik itu sendiri. Peserta didik akan memanfaatkan media 
komputer dan teknologi jaringan internet yang menampilkan pesan berupa data pertumbuhan 
penduduk Indonesia. Dalam pembelajaran yang berpusat pada peserta didik memungkinkan 
guru untuk menghabiskan waktu lebih banyak, untuk mengarahkan pembelajaran peserta 
didik, menilai dan membimbing peserta didik secara individual (Smaldino at.al,2015).
C. Pengertian Media Pembelajaran
Dalam pembelajaran (instructional), sumber pesan dapat berupa sumber belajar, 
antara lain: guru, instruktur, bahan ajar terprogram (multimedia), lingkungan belajar dan 
sebagainya. Penerima pesan adalah: peserta didik, atau peserta didik.
Media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan (atau informasi) yang dapat 
dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran (Schramm,1977). Briggs (1977) mendifinisikan 
media pembelajaran sebagai sarana fisik untuk menyampaikan isi / materi pembelajaran. 
5
Gagne (1990) mengartikan media pembelajaran sebagai jenis komponen dalam lingkungan 
peserta didik yang dapat merangsang mereka untuk belajar. Arief S. Sadiman (1986) 
menyampaikan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan 
untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima, sehingga dapat merangsang pikiran, 
perasaan, perhatian dan minat peserta didik agar terjadi proses belajar. 
Dari keempat definisi di atas, terdapat perbedaan konsep media pembelajaran yang 
sangat prinsip. Lakukan analisis dari keempat  pendapat tersebut, selanjutnya guru dapat 
menentukan pengertian yang relevan untuk pemanfaatan media dalam pembelajaran mata 
pelajaran di unit satuan pendidikan masing-masing.
Dalam pelaksanaan pembelajaran, optimalisasi penggunaan model pembelajaran dan 
media pembelajaran sangat menentukan keberhasilan guru dalam mengelola pembelajaran 
serta ketercapaian tujuan pembelajaran. Banyak faktor yang perlu dipertimbangkan dalam 
pemilihan media pembelajaran yang tepat. Bagi guru yunior yang masih memiliki sedikit 
pengalaman dalam mengelola pembelajaran, tidak jarang menemui realitas (misalnya capaian 
hasil belajar peserta didik) yang berbeda dengan perencanaan pembelajaran sebelumnya. 
Untuk itu, setiap guru yunior sangat perlu memahami berbagai karakteristik media 
pembelajaran, dan cara pemanfaatannya. 
A.  Ciri-ciri Media Pembelajaran
Untuk mengenali beberapa alasan mengapa media pembelajaran digunakan, Gerlach 
dan Ely (1971) mengemukakan tiga ciri media pembelajaran sebagai berikut:
1.  Ciri fiksatif (fixative property).  Ciri ini menggambarkan kemampuan media 
pembelajaran untuk merekam, menyimpan, menampilkan, dan mengkonstruksi suatu 
peristiwa atau obyek. Cara ini amat penting bagi guru karena kejadian-kejadian atau 
objek yang telah direkam atau disimpan dengan format media yang ada dapat digunakan 
setiap perkuliahan.  Media pembelajaran dengan ciri tersebut yang dapat dikembangkan 
seperti: photo, program video, program audio,  program multimedia, file  presentasi 
komputer. Maka media pembelajaran memungkinkan suatu rekaman kejadian yang terjadi 
pada satu waktu tertentu ditransportasikan tanpa mengenal waktu. 
2.  Ciri manipulatif (manipulatif property).  Suatu kejadian yang memerlukan  waktu 
panjang (produksi berhari-hari) dapat disajikan kepada peserta didik dalam waktu dua 
atau tiga menit dengan teknik pengambilan gambar atau  time-lapse recording. 
Kemampuan media dari ciri manipulative seperti ini, memerlukan tim pengembangan
yang memiliki keahlian subtansi (konten materi ajar)  dan keahlian produksi, karena 
6
apabila terjadi kesalahan dalam pengaturan kembali urutan kejadian atau potongan 
bagian-bagian yang salah, maka akan terjadi pula kesalahan penafsiran yang tentu saja 
akan membingungkan, dan bahkan menyesatkan peserta didik dalam pencapaian tujuan 
pembelajaran yang diinginkan. Misalnya proses metamorphosis kupu-kupu. Proses larva 
menjadi kepompong, kemudian menjadi kupu-kupu dapat dipercepat dengan teknik 
rekaman fotografer di samping itu juga dapat diperlambat menayangkan kembali hasil 
rekaman video. Selain itu juga bisa diputar mundur.
3.  Ciri distributif (distributive property). Ciri distributif dari media memungkinkan suatu 
objek atau kejadian ditrasnspormasikan melalui ruang, dan secara bersamaan kejadian 
tersebut disajikan kepada peserta didik dengan stimulus pengalaman yang relatif sama 
mengenai kejadian ini. Sekali materi ajar direkam dalam format media apa saja. Materi 
ajar tersebut dapat direproduksi seberapa kali, serta siap disajikan secara bersamaan di 
berbagai kelas, atau disajikan dalam tunda waktu di kelas berbeda. Konsistensi informasi 
(materi ajar) yang telah direkam akan terjamin sama atau hampir sama dengan aslinya.
B.  Fungsi Media Pembelajaran
Ada dua fungsi utama media pembelajaran yang perlu dieksplor oleh para guru, yaitu:
1.  Media pembelajaran sebagai alat bantu dalam pembelajaran
Dipahami bahwa setiap materi ajar memiliki tingkat kesukaran yang bervariasi. Pada 
satu sisi ada materi ajar yang tidak memerlukan alat bantu, tetapi di sisi lain ada materi ajar 
yang sangat memerlukan alat bantu berupa media pembelajaran. Media pembelajaran yang 
dimaksud, antara lain berupa peta, grafik, gambar, model, simulator, dan sebagainya. Materi 
ajar dengan tingkat kesukaran yang tinggi tentu sukar dipahami oleh peserta didik. Tanpa 
bantuan media, maka materi ajar menjadi sukar dicerna dan dipahami oleh setiap peserta 
didik. Hal ini akan semakin terasa apabila materi ajar tersebut abstrak, dan kompleks.
Sebagai alat bantu, media pembelajaran mempunyai fungsi untuk memperlancar 
tercapainya tujuan pembelajaran. Hal ini dilandasi keyakinan bahwa kegiatan pembelajaran
dengan bantuan media pembelajaran dapat mempertinggi kualitas belajar peserta didik dalam 
tenggang waktu yang cukup lama. Itu berarti, pengalaman belajar peserta didik dengan 
bantuan media pembelajaran akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih baik 
daripada tanpa bantuan media pembelajaran.
2.  Media pembelajaran sebagai sumber belajar
Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai bahan 
pembelajaran untuk belajar peserta didik. Sumber belajar dapat dikelompokkan menjadi 
7
enam kategori, yaitu pesan, manusia, mesin, alat, strategi dan lingkungan. Media 
pembelajaran, sebagai salah satu sumber belajar, dapat membantu guru dalam memudahkan 
tercapainya pemahaman peserta didik terhadap materi ajar, serta dapat memperkaya wawasan 
peserta didik.
C.  Manfaat Media Pembelajaran
Secara umum manfaat media dalam pembelajaran adalah memperlancar interaksi 
guru dengan peserta didik, dan membantu peserta didik belajar secara optimal. Namun 
demikian, secara khusus manfaat media pembelajaran dikemukakan oleh Kemp dan Dayton 
(1985), yaitu :
1. Penyampaian materi ajar dapat diseragamkan
Guru mungkin mempunyai gaya dan penafsiran yang beraneka ragam dalam 
menyampaikan subtansi materi ajar. Untuk mata pelajaran yang diampu secara team 
teaching dan banyak guru, maka dimungkinkan terjadi perbedaan penafsiran terhadap 
materi ajar. Dengan media yang dirancang bersama, penafsiran yang beragam ini dapat 
direduksi dan disampaikan kepada peserta didik secara seragam.
2. Proses pembelajaran menjadi lebih menarik
Media dapat menyampaikan materi ajar, yang dapat didengar (program audio) dan dapat 
dilihat (media visual), sehingga dapat mendeskripsikan prinsip, konsep, proses atau 
prosedur yang bersifat abstrak dan tidak lengkap menjadi lebih kongkrit dan lengkap.
3. Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif
Jika dipilih dan dirancang dengan benar, media dapat membantu guru dan peserta didik 
melakukan komunikasi dua arah secara aktif. Tanpa media, guru mungkin akan cenderung 
berbicara “satu arah” kepada peserta didik.
4. Waktu belajar mengajar lebih efisien
Sering kali terjadi, para guru memerlukan waktu yang lama untuk menjelaskan materi ajar, 
sehingga estimasi waktu yang disediakan tidak mencukupi. Padahal waktu  untuk 
menjelaskan dapat diefisienkan, jika guru memanfaatkan media pembelajaran dengan 
baik.
5. Kualitas belajar peserta didik dapat ditingkatkan
Pemanfaatan media tidak hanya membuat proses pembelajaran lebih efisien, tetapi proses 
pembelajaran dapat lebih ditingkatkan efektivitasnya untuk membantu peserta didik 
menyerap materi ajar secara lebih mendalam dan utuh.
8
6. Proses pembelajaran dapat terjadi dimana saja dan kapan saja
Media pembelajaran dapat dirancang sedemikian rupa sehingga pembobotan belajar 
terstruktur dan mandiri dapat peserta didik dilakukan untuk belajar dimana saja dan kapan 
saja mereka mau, tanpa tergantung pada sumber belajar primer (guru).
7. Sikap positif peserta didik terhadap proses belajar dapat ditingkatkan
Dengan media, proses pembelajaran menjadi lebih menarik. Dan hal ini dapat 
meningkatkan kecintaan dan apresiasi peserta didik terhadap ilmu pegetahuan yang telah 
disampaikan guru, yang akhirnya mendorong peserta didik untuk aktif untuk mendalami 
secara mandiri.
8. Peran guru dapat berubah ke arah yang lebih positif dan produktif
Dengan media guru tidak perlu mengulang-ulang penjelasan dan dapat mengurangi 
penjelasan verbal (lisan), sehingga guru dapat memberikan perhatian lebih banyak kepada 
aspek pemberian motivasi, perhatian, dan pembimbingan peserta didik.
D.  Klasifikasi Media Pembelajaran
Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses 
penyampaian pesan dari sumber pesan, melalui saluran atau perantara tertentu, ke penerima 
pesan. Di dalam pembelajaran pesan tersebut berupa materi ajar yang disampaikan oleh guru, 
sedang saluran atau perantara yang digunakan untuk menyampaikan pesan/materi ajar adalah 
media pembelajaran atau teknologi. Fungsi media pembelajaran dalam proses belajar mengajar 
adalah untuk : (1) memperjelas penyajian pesan agar tidak bersifat verbalistis, (2) mengatasi 
keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, (3) menghilangkan sikap pasif pada subjek belajar, 
(4) membengkitkan motivasi pada subjek belajar. Untuk mendapatkan gambaran yang agak 
rinci tentang macam-macam media pembelajaran, perlu diadakan pembahasan seperlunya 
tentang taksonomi media pembelajaran.
Bretz (1972) mengidentifikasikan ciri utama media menjadi tiga unsur, yaitu unsure : 
suara, visual, dan gerak. Media visual sendiri dibedakan menjadi tiga, yaitu: gambar, garis, dan 
simbol, yang merupakan suatu bentuk yang dapat ditangkap dengan indera penglihatan. Di 
samping ciri tersebut, Bretz (1972) juga membedakan antara media siar (telecomunication) dan 
media rekam (recording), sehingga terdapat delapan klasifikasi media, yaitu: (1) media audio 
visual gerak, (2) media audio visual diam, (3) media visual gerak, (4) media visual diam, (5) 
media semi gerak, (6) media audio, dan (7) media cetak. Secara lengkap dapai dilihat pada 
skema berikut ini. 
9
Heinich, Molenda, & Russel, mengemukakan klasifikasi dan jenis media yang dapat 
digunakan dalam kegiatan pembelajaran yaitu :
1. Media yang tidak diproyeksikan, 
a. Realita : Benda nyata yang digunakan sebagai bahan belajar
b. Model:  Benda tiga dimensi yang merupakan representasi dari benda
sesungguhnya
c. Grafis: Gambar atau visual yang penampilannya tidak diproyeksikan (Grafik, Chart, 
Poster, Kartun)
d. Display: Medium yang penggunaannya dipasang di tempat tertentu sehingga dapat 
dilihat informasi dan pengetahuan di dalamnya.
2. Media yang diproyeksikan (projected media), slide presentasi dengan LCD (liqiud Cristal 
Diaplay),
3. Media audio, program audio, audio vission, aktive audio vission
4. Media video dan film, 
5. Multimedia berbasis computer,    Computer Assisted Instructional (CAI), program 
multimedia pembelajaran,
6. Multimedia Kit, perangkat praktikum (program simulator,
Smaldino dkk (2015) menjelaskan enam klasifikasi utama dari media pembelajaran, 
yaitu:
1.  Media teks: buku cetak, modul pembelajaran, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), e-book, webpages,
2.  Media audio: compact disk, presenter live, podcast
3.  Media visual: poster, wallchart, photo, gambar yang interactive whiteboard,
4.  Media video: program video pembelajaran, DVD (Digital Versatile Disc), streaming 
video,
5.  Media Manipulatif: mockup, trainning kit, berbagai bangun matematik, simulator.
6.  Orang: dalam kenyataannya, orang sangat penting dalam belajar. Peserta didik di sekolah 
belajar dari guru dan teman lainnya, di masyarakat peserta didik belajar dari orang 
dewasa lainnya.
E.  Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan media pembelajaran
Dalam menentukan media pembelajaran yang akan dimanfaatkan dalam proses belajar 
mengajar, pertama-tama seorang guru harus mempertimbangkan:
1. Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai,  
10
2. Karakteristik peserta didik, 
3. Karakteristik media yang akan dimanfaatkan,
4. Jenis rangsangan belajar yang diinginkan (audio atau visual), 
5.  Ketersediaan sumber setempat, 
6. Efektifitas biaya dalam jangka waktu panjang.
F.  Perkembangan Pemanfaatan Media Pembelajaran sebagai Sumber Belajar
Media pembelajaran diciptakan untuk membantu guru dalam menyampaikan materi 
pelajaran. Media pembelajaran awalnya berupa alat bantu visual untuk memberikan 
pengalaman konkrit dan motivasi belajar. Contoh alat bantu visual: gambar, model, objek dan 
lain-lain. pada awalnya media pembelajaran hanya berpusat pada alat bantu visual tanpa 
memperhatikan apek desain, pengembangan dan evaluasi. Untuk menghindari verbalisme 
karena alat bantu visual maka media pembelajaran di lengkapi dengan alat audio, sehingga 
media yang digunakan menjadi audio visual. Fungsi media pembelajaran terus berkembang, 
dimulai saat teori komunikasi pada tahun 1950 fungsi media pembelajaran yang semula 
hanya sebagai alat bantu mengajar berkembang menjadi penyalur informasi. Pada tahun 
1960-1965 diciptakan media yang dapat mengubah tingkah laku peserta didik sebagai hasil 
proses belajar, buah pengembangan dari teori tingkah-laku (behaviorism theory) oleh B. F. 
Skinner. Teori ini digunakan dalam ranah pendidikan untuk mengubah tingkah laku peserta 
didik agar menjadi kebiasaan yang positif. Media instruksional terkenal yang dihasilkan dari 
teori ini adalah  teaching machine  dan  programmed instruction.  Pada tahun 1965-1970 
pendekatan sistem (system approach). Mendorong digunakan media sebagai integral dalam 
program pembelajaran. Program pembelajaran direncanakan berdasar kebutuhan  peserta 
didik dan karakteristik yang nantinya tingkah laku peserta didik akan diubah sesuai dengan 
tujuan yang akan di capai, menggunakan media yang telah di rancang secara seksama. 
Gurupun mulai merencanakan kegiatan pembelajaran dengan media yang dibutuhkan. Seiring 
berjalannya waktu peranan media pembelajaran meningkat muncul kekhawatiran jika media 
pembelajaran akan menggeser guru sebagai sumber belajar. Kekhawatiran ini dipicu dengan 
ditemukannya mesin cetak yang dapat menghasilkan buku teks sebagai salah satu sumber 
belajar. Padahal selain sumber belajar guru juga memberikan perhatian dan bimbingan secara 
individu terhadap peserta didik (Sadiman, 2014)
Menginjak abad ke-20 negara kita mengalami perkembangan era informasi yang 
sangan pesat. Media pendidikanpun mengalami perkembangan dari media pembelajaran 
sederhana seperti gambar, bagan, poster, rekaman suara menjadi multimedia pembelajaran 
11
berupa video pembelajaran. Penggunaan multimedia pembelajaran diawali dengan 
diudaranya Televisi Pendidikan oleh pihak swasta pada tahun 1991 (Susiliana & Riyana, 
2008). 
Di masa sekarang ini perkembangan Bentuk multimedia pembelajaranpun bervariatif. 
Video pembelajaran dikembangkan bukan hanya siaran televisi namun dibuat dalam bentuk 
DVD agar setiap sekolah dapat mempergunakan multimedia tersebut setiap saat. Sampai saat 
teknologi Komputer masuk ke dunia pendidikan kita. Teknologi ini menjadi gebrakan baru 
untuk membatu pembuatan media pembelajaran. Terbukti dari banyaknya bentuk media 
pendidikan yang dapat dihasilkan, seperti: presentasi power point, buku/materi pembelajaran 
berupa soft file, video pembelajaran, media pendidikan berupa  software  dan lain-lain. 
kemudian media pembelajaran terus berkembang dengan adanya internet. Di internet kita 
dapat mengakses berbagai macam hal tidak terkecuali materi pelajaran. Internet secara non-formal menjadi salah satu media pendidikan bagi peserta didik, karena jangkauannya yang 
luas, kelengkapan informasi, mudah digunakan dan dapat menarik minat peserta didik dengan 
sendirinya. 
Perkembangan media pada masa sekarang, sampai pada  pemanfaatan  media 
pembelajaran menggunakan smart phone (ponsel pintar). Smart phone merupakan teknologi 
terkini dalam bidang komunikasi. Dengan smart phone semua orang tidak hanya dimudahkan 
dalam komunikasi saja, tapi dapat berbagi informasi dengan mudah dan gambang terlebih 
karena ukuran smart phone yang kecil dan dapat dibawa kemana saja. Teknologi ini juga 
dilengkapi dengan fitur dan aplikasi yang dapat dikembangkan untuk dunia pendidikan. 
Aplikasi smart phone dapat dibuat dan dikembangkan untuk media pembelajaran, contoh 
bentuk media pembelajaran dari aplikasi smart phone adalah: aplikasi game edukatif, aplikasi 
materi pembelajaran interaktif, video tutorial.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) berdampak pada kemudahan 
memperoleh informasi dan mengembangkan strategi pembelajaran. Banyak dan beragamnya 
informasi yang tersedia menuntut kemampuan seorang guru untuk  menentukan  strategi 
pembelajaran yang tepat untuk menawarkan berbagai pengalaman kepada peserta didik 
sehingga mampu membangun pemahamannya di lingkungan sekitarnya. Guru perlu 
merencanakan dan mengelola lingkungan belajar yang menarik untuk memastikan bahwa 
para peserta didik merasa tertantang dan ingin berhasil mencapai tujuan pembelajaran. 
Kesiapan  guru dalam merencanakan dan melaksanakan strategi pembelajaran akan 
mempunyai dampak yang signifikan terhadap pencapaian hasil belajar peserta didiknya. 
Strategi pembelajaran meliputi pemilihan model/metode pembelajaran, serta pemanfaatan 
12
media pembelajaran dan sumber belajar. Oleh karena itu, guru perlu selektif dalam 
menentukan strategi mengintegrasikan media pembelajaran dan sumber belajar ke dalam 
pembelajaran. Adapun strategi yang akan dijelaskan pada kegiatan belajar ini antara lain: (a) 
presentasi, (b) demonstrasi, (c) latihan (drill and practice), (d) tutorial, dan (e) diskusi.
1.  Strategi Presentasi
Di dalam presentasi, sumber menjelaskan, menceritakan, atau menyampaikan informasi
(materi ajar) kepada peserta didik. Komunikasi di dalam presentasi dikontrol oleh sumber 
dengan respon (dari peserta didik) secara  terbatas.  Guru  sebagai salah satu sumber 
komunikasi. Sumber belajar yang lain bisa berupa buku teks, situs internet, program audio, 
program video, program multimedia, dan lain sebagainya. Seorang guru yang menyajikan 
presentasi bisa dilakukan dengan menyisipkan pola komunikati interaktif, di mana peserta 
didik bisa bertanya, memberi respon dengan menjawab, mengklarifikasi atas inisiatif sendiri 
maupun ditunjuk oleh guru. Atau, peserta didik dapat menanyakan berkaitan dengan materi 
yang sedang dipresentasikan.
Gambar 2. Guru mempresentasikan materi pelajaran di kelas 
(Sumber: www.google.com)
•  Keunggulan
Strategi presentasi mempunyai beberapa kelebihan, di antaranya (a) penyajian materi 
ajar (realtime) hanya sekali untuk didengarkan oleh semua peserta didik, dan informasi yang 
disajikan tidak berulang-ulang sehingga lebih efesiensi waktu, (b)  peserta didik  dapat 
mengunakan berbagai strategi untuk menangkap informasi (materi ajar) yang dipresentasikan
guru. Kegiatan peserta didik, selain mendengar, juga mencatat, menggambar atau bahkan 
merekam,  serta (c) teknologi dan media  yang ada saat ini, dapat menyajikan sumber 
informasi yang berkualitas.
13
•  Keterbatasan
Strategi presentasi juga memiliki beberapa keterbatasan, di antaranya: (a) dianggap sulit 
untuk beberapa peserta didik,  karena tidak semua peserta didik  memiliki kemampuan 
mempersepsi dan merespon informasi (materi ajar) secara baik dan cepat, (b) presentasi yang 
tidak memberi kesempatan untuk berinteraksi, berpotensi membosankan, (c) peserta didik
yang  memiliki  keterampilan  kurang dalam  mencatat akan kesulitan untuk menangkap 
informasi, (c) sulit untuk menerapkan presentasi pada peserta didik kelas rendah karena 
mereka belum mampu berpikir secara abstrak.
•  Integrasi dalam Pembelajaran
Terdapat beberapa sumber belajar yang relevan untuk dimanfaatkan  memperkaya 
informasi. Dalam presentasi, tidak harus selalu membuat peserta didik berdiri di depan kelas. 
Membaca buku, mendengarkan program audio, menonton program video, merupakan contoh 
dari strategi presentasi. Meskipun tidak selalu dipertimbangkan sebagai pendekatan 
pembelajaran yang paling tepat untuk digunakan, strategi presentasi dapat digunakan dengan 
cara yang efektif.  Karakteristik peserta didik (khususnya umur dan pengalaman peserta 
didik)  akan menjadi faktor pertimbangan bagi guru untuk  menentukan kapan strategi 
presentasi tepat untuk digunakan.
2.  Strategi Demonstrasi
Di dalam strtaegi  demonstrasi, peserta didik  dapat mengamati secara intensif
keterampilan atau prosedur yang ditampilkan oleh sumber  secara faktual dan kongkrit. 
Demonstrasi dapat dilakukan oleh guru, atau sumber program video yang diputar ulang 
dengan menggunakan media (video player). Jika menginginkan terjadi interaksi dua arah atau 
praktik dengan umpan balik, maka diperlukan kehadiran guru, instruktur atau tutor. Strategi 
demonstrasi biasanya diperlukan untuk menunjukkan sesuatu proses, prosedur atau unjuk 
kerja. Di dalam pembelajaran sering dilakukan bentuk demonstrasi oleh guru, instruktur atau 
tutor, selanjutnya diikuti oleh kegiatan eksperimen. Dalam kegiatan eksperimen peserta didik 
mempraktikan proses, prosedur atau ujuk kerja yang baru saja diamati, dilihat dan didengar 
dengan bimbingan guru, instruktur atau tutor.   
14
Gambar 3. Contoh penerapan strategi demonstrasi
•  Keunggulan
Strategi demonstrasi merupakan salah satu metode yang tepat, sebelum peserta didik 
melakukan langsung (learning by doing) dengan obyek praktikum. Strategi demonstrasi 
mempunyai beberapa kelebihan, antara lain (a) peserta didik  mendapatkan keuntungan 
dengan melihat sesuatu sebelum mereka melakukannya (seeing before doing), (b) guru dapat 
memandu kelompok besar untuk menyelesaikan tugas yang diberikan (task guidance), (c) 
lebih ekonomis karena tidak perlu menyiapkan bahan pembelajaran untuk masing-masing 
peserta didik (economy of supplies), (d) meminimalisir bahaya praktikum, karena guru dapat 
mengontrol bahan-bahan yang berpotensi bahaya terhadap peserta didik.
•  Keterbatasan
Strategi demonstrasi juga memiliki beberapa keterbatasan, yaitu (a) peserta didik tidak 
mengalaminya secara langusung (hanya menyaksikan demonstrasi), kecuali bagi peserta 
didik  yang melakukan demonstrasi  (karena dianggap telah memiliki kemampuan dan 
keterampilan yang baik), (b) setiap peserta didik mungkin memiliki keterbatasan penglihatan
dan pendengaran  yang berbeda-beda dalam menyaksikan demonstrasi, sehingga 
dimungkinkan ada beberapa aspek yang terlewatkan oleh peserta didik,  dan (c) 
memungkinkan tidak semua peserta didik mengikuti demonsrasi apabila hanya menggunakan 
satu cara.
•  Integrasi dalam Pembelajaran
Bagaimana  mengintegrasikan  strategi demonstrasi dalam Pembelajaran? Perhatikan 
penjelasan berikut. Guru  dapat menggunakan berbagai sumber belajar untuk menunjang 
demonstrasi yang dilakukan. Guru dapat menyiapkan sebuah program video demonstrasi 
sebelum pembelajaran dimulai, kemudian menayangkannya di dalam kelas dan berbicara 
kepada para peserta didik mengenai apa yang akan mereka saksikan. Hal ini dapat mewakili 
Guru dalam melakukan demonstrasi proses, prosedur atau unjuk kerja yang komplek. Guru 
15
dapat mengontrol dengan menghentikan sementara (puase), atau memutar balik rekaman 
program video untuk memperjelas dan penguatan materi ajar, serta guru dapat menberi 
penjelasan tambahan tentang keselamatan kerja. Ini efektif jika prosedur demontrasi cukup 
kompleks. Anda juga dapat menggunakan objek sebenarnya  untuk melakukan demonstrasi. 
Satu hal yang perlu diperhatikan, pastikan semua peserta didik  dapat menyaksikan 
demonstrasi tersebut dengan saksama. Demonstrasi dapat di lakukan di depan kelas satu 
demonstrasi untuk semua peserta didik, kelompok kecil, maupun secara individu bagi peserta 
didik yang memerlukan penjelasan tambahan secara khusus bagaimana menyelesaikan tugas 
tersebut.
3.  Strategi Latihan (drill and practice)
Strategi drill and practice merupakan serangkaian latihan kognitif (thingking skills) dan 
latihan keterampilan (motor skills) yang didesain untuk menyegarkan atau meningkatkan 
pengetahuan yang spesifik atau keterampilan yang baru. Tujuan dari strategi drill and 
practice yaitu peserta didik menjadi ahli atau belajar tanpa adanya kesalahan. Strategi ini 
menganggap bahwa peserta didik  sebelumnya telah mendapatkan pembelajaran secara 
konsep, prinsip, atau prosedur yang mereka kerjakan. Agar lebih efektif, strategi ini perlu 
disertai dengan umpan balik untuk memperkuat hasil yang benar dan memperbaiki kesalahan 
yang terjadi selama pembelajaran.
Gambar 4. Strategi drill and practice dalam 
pembelajaran matematika (Sumber: www.google.com)
•  Keunggulan
Beberapa keunggulan strategi drill and practice  yaitu: (a) peserta didik mendapatkan 
umpan balik yang sesuai dengan respon yang diberikan (corrective feedback), (b) informasi 
16
disajikan dalam bentuk kecil-kecil (small chunks) sehingga memberikan kesempatan kepada 
peserta didik  meninjau kembali materi tersebut, dan (c) latihan yang dibangun dalam 
informasi yang kecil-kecil memberikan kesempatan kepada  peserta didik  untuk 
mengujicobakan pengetahuan baru tersebut melalui beberapa cara yang positif.
•  Keterbatasan
Beberapa keterbatasan dalam strategi drill and practice antara lain sebagai berikut: (a)
pengulangan terus menerus. Tidak semua peserta didik menyambut baik pengulangan yang 
terjadi selama drill and practice. (b) cenderung membosankan. Beberapa materi dalam drill 
and practice memiliki cukup banyak item sehingga dapat membuat peserta didik menjadi 
bosan karena terlalu banyak pengulangan dengan item yang monoton. (c) potensi belajar. 
Apabila peserta didik  membuat kesalahan berulang-ulang, penggunaan strategi drill and 
practice secara terus menerus tidak akan membantu peserta didik belajar.
•  Integrasi dalam Pembelajaran
Strategi Drill and practice biasa digunakan untuk tugas-tugas seperti mempelajari 
matematika, bahasa asing dan membangun kosa kata. Banyak aplikasi komputer multimedia 
yang menawarkan kesempatan pada peserta didik untuk meninjau kembali informasi serta 
melatih pengetahuan dan keterampilan mereka. Kaset audio, flash card, dan lembar kerja 
dapat digunakan secara efektif untul drill and practice dalam belajar mengeja (spelling), 
aritmatika, dan bahasa. Peserta didik dapat bekerja secara berkelompok melalui drill and 
practice.  Guru dapat menunjuk peserta didik  yang memiliki kemampuan lebih untuk 
dikelompokan bersama peserta didik yang masih perlu ditingkatkan kemampuannya. 
Pekerjaan rumah yang didesain agar peserta didik dapat berlatih di luar kelas, dapat 
disajikan dalam bentuk drill and practice. Guru perlu mempertimbangkan nilai dari pekerjaan 
rumah tersebut dan seberapa baik persiapan peserta didik untuk menyelesaikan tugas tersebut. 
Banyak orang tua yang mengeluhkan atau bahkan menjadi stres dengan pekerjaan rumah 
anaknya karena tidak familiar dengan subtansi materi ajar. Dalam memberikan pekerjaan 
rumah sebaiknya materi yang telah disajikan di kelas atau mungkin beberapa persoalan yang 
menantang sebagai tugas tambahan. Peserta didik akan menemukan nilai dari pekerjaan 
rumah ketika tugas tersebut memberikan latihan yang dapat memperkuat apa yang telah 
dipelajarinya di dalam kelas.
4.  Strategi Tutorial
Strategi tutorial dilakukan untuk membantu peserta didik yang mengalami kesulitan 
dalam belajar. Tutorial biasanya dilakukan tatap muka dengan peserta didik secara individual, 
17
dan sering digunakan untuk mengajarkan keterampilan dasar seperti membaca dan aritmatika. 
Perbedaan antara tutorial dan drill and pravtice adalah tutorial memperkenalkan dan 
mengajarkan materi baru, sedangkan drill and practice  berfokus pada konten yang telah 
dipelajari dalam format lain (misalnya latihan mengerjakan soal dan pengulangan sampai 
mencapai ketuntasan hasil belajar). Peserta didik biasanya berkerja secara mandiri atau satu-satu yang dilengkapi dengan beberapa latihan dengan umpan balik disetiap bagiannya.
•  Keunggulan
Dibandingkan dengan strategi lainnya, tutorial memiliki beberapa keuntungan, di 
antaranya (a) peserta didik dapat bekerja secara mandiri pada saat ada materi baru dan 
menerima umpan balik kemajuan belajar; (b) peserta didik  dapat belajar  sesuai dengan 
kecepatannya, mengulangi informasi jika dibutuhkan sebelum beralih ke materi selanjutnya; 
dan (c) tutorial berbasis komputer (multimedia model tutorial) dapat merespon jawaban 
peserta didik secara langsung dan cepat. Respon komputer memberikan tindak lanjut kegiatan 
belajar, apakah peserta didik belajar ke topik berikutnya, atau peserta didik ikut program 
meremedial.
Gambar 5. Kegiatan tutorial (Sumber: www.google.com)
•  Keterbatasan
Sama halnya dengan strategi lainnya, tutorial juga memiliki kelemahan, antara lain (a) 
adanya pengulangan dapat menyebabkan peserta didik  menjadi bosan jika materi yang 
disajikan hanya dalam bentuk satu pola saja, (b) dapat menyebabkan peserta didik menjadi 
frustasi jika tidak terlihat kemajuan belajarnya saat tutorial, serta (c) berpotensi adanya 
kesalahan dalam membimbing peserta didik.
•  Integrasi dalam Pembelajaran 
18
Kegiatan tutorial dapat berupa pembelajaran guru dengan peserta didik, antar peserta 
didik (peer tutoring), komputer dengan peserta didik (computer assisted tutorial), dan buku 
dengan peserta didik. Guru dapat bekerja dengan peserta didik secara individual maupun 
kelompok kecil, membimbing peserta didik sesuai dengan kecepatan belajarnya. Strategi 
tutorial dengan sumber belajar: guru, program komputer multimedia, sangat cocok untuk 
peserta didik yang memiliki kesulitan belajar dalam kelompok besar. Dengan demikian, guru
dapat mempertimbangkan pemanfaatan  media pembelajaran  atau sumber belajar  dalam
strategi  tutorial. Saat ini, banyak  model  multimedia yang didesain untuk membantu 
menyajikan pembelajaran kepada peserta didik, Misalnya: sistem pembelajaran terintegrasi 
(integrated learning system), model blanded learning.
5.  Strategi Diskusi
Strategi pembelajaran diskusi merupakan aktivitas belajar bertukar ide, gagasan dan 
opini antar peserta didik, maupun antara peserta didik dengan guru. Diskusi dapat digunakan 
di setiap pembelajaran dalam kelompok kecil maupun besar. Ini merupakan cara yang tepat 
digunakan untuk menilai pengetahuan, keterampilan, dan sikap sekelompok peserta didik.
Strategi diskusi relevan untuk memberikan pengalaman belajar baru, terutama ketika pada 
pengenalan topik baru, atau pada awal tahun ajaran baru ketika guru belum mengenali peserta 
didik secara lebih dalam. 
Gambar. 6. Siswa melakukan diskusi di kelas 
(Sumber: www.google.com)
Diskusi dapat dipimpin oleh guru dengan memberikan pertanyaan pengantar, untuk 
mengetahui respon dari peserta didik. Hendaknya guru tidak  memberikan pertanyaan-pertanyaan  yang menghendaki jawaban faktual sederhana,  karena tidak memberikan 
kesempatan kepada peserta didik  untuk berpikir. Sebaiknya diawali dengan pertanyaan 
“bagaimana” atau “mengapa” untuk mendorong terjadinya diskusi. 
19
•  Keunggulan
Strategi diskusi memiliki beberapa kengggulan, di antaranya: (a) diskusi biasanya lebih 
menarik bagi peserta didik daripada duduk dan mendengarkan sesorang menceritakan suatu 
fakta, (b) peserta didik merasa tertantang untuk memikirkan tentang topik dan penerapan apa 
yang telah mereka ketahui, (c) memberikan kesempatan kepada peserta didik  untuk 
membawa ide baru dalam menyajikan informasi.
•  Keterbatasan
Strategi diskusi juga memiliki beberapa keterbatasan, antara lain (a) memungkinkan 
tidak semua peserta didik ikut berpartisipasi, sehingga sebaiknya guru harus menyakinkan 
kepada semua bahwa mereka mempunyai kesempatan untuk berbicara, (b) terkadang peserta 
didik tidak belajar di luar dari apa yang telah mereka ketahui dan kurang tertantang untuk 
memperluas pengalaman belajarnya, (c) beberapa pertanyaan yang dilontarkan mungkin 
terlalu sulit bagi peserta didik untuk berpikir sesuai dengan tingkat pengetahuannya, serta (d) 
diskusi mungkn bukan strategi yang efektif digunakan kepada peserta didik kelas rendah, 
yang masih membutuhkan penjelasan langsung dari guru.
•  Integrasi dalam Pembelajaran
Diskusi merupakan cara yang efektif untuk memperkenalkan suatu topik baru. 
Menyaksikan sebuah program video pembelajaran, memberikan pengalaman belajar yang 
biasa. Namun jika program video itu diangkat menjadi sebuah isu, maka akan memberikan 
kesempatan kepada peserta didik  untuk berdiskusi, bertukar pikiran atau opini. Setelah 
melakukan diskusi, selanjutnya ada forum tanya jawaban untuk memperkuat pemahaman 
peserta didik.
G.  Pengertian Multimedia Pembelajaran
Pada tahun 80-an, konsep multimedia mulai bergeser sejalan dengan perkembangan 
teknologi komputasi yang demikian cepat. Saat ini istilah multimedia diartikan bentuk 
transmisi teks, audio dan grafik dalam periode bersamaan (Simonson dan Thompson, 1994). 
Sementara itu, Gayestik memberi pengertian istilah “multimedia” dimaknai sebagai suatu 
sistem komunikasi interaktif berbasis komputer yang mampu menciptakan, menyimpan, 
menyajikan dan mengakses kembali informasi berupa teks, grafik, suara, video atau animasi 
(Gayestik,1992). Dengan perkembangan teknologi komputer saat ini, sudah memungkinkan 
untuk menyimpan, mengolah dan menyajikan kembali unsur media: teks, gambar, suara dan 
video dalam format digital. Hooper (2002) menyebutkan bahwa multimedia sebagai media 
presentasi berbeda dari multimedia sebagai media peserta didikan. Media presentasi tidak 
20
menuntut peserta didik berinteraktivitas secara aktif di dalam penyajiannya, sekalipun ada 
interaktif maka interaktif tersebut hanya berbentuk interaktivitas yang samar (covert).  Lalu 
bagaimana dengan istilah multimedia peserta didikan? 
Hackbart (1996) mendefinisikan Multimedia pembelajaran sebagai suatu program 
Pembelajaran yang mencakup berbagai sumber yang terintegrasi berbagai unsur-unsur media 
dalam suatu program (software) komputer. Program komputer tersebut secara sengaja 
dirancang dalam bagian-bagian dan secara terstruktur memberi peluang untuk terjadinya 
interaktivitas antara pengembang dengan peserta didik (peserta didik) secara fleksibel, 
sehingga terjadi proses belajar pada diri peserta didik. Multimedia pembelajaran  melibatkan 
peserta didik dalam aktivitas-aktivitas yang menuntut proses mental di dalam peserta didikan. 
Dari perspektif ini aktivitas mental spesifik yang dibutuhkan untuk terjadinya Pembelajaran 
dapat dibangkitkan melalui manipulasi peristiwa-peristiwa instruksional (instructional 
events) yang sistematis. Disini Hooper secara tegas menyatakan peran penting suatu desain 
instruksional di dalam multimedia pembelajaran (educational multimedia). 
Johnston (1990) mendefinisikan multimedia pembelajaran sebagai kemampuan untuk 
memproses berbagai jenis  “media'” yaitu, teks, data grafis, gambar diam, animasi, video, 
audio, dan efek khusus pada komputer pada waktu yang sama. Program multimedia dapat 
disajikan pada satu layar, dua layar, monitor digital, Liquid Cristal Display, atau projector. 
Dengan demikian, pengertian multimedia pembelajaran  adalah program instruksional 
yang mencakup berbagai unsur media (teks, gambar diam, suara, video, dan animasi) yang 
terintegrasi dalam instruksi program sistem komputer.  Program multimedia pembelajaran 
dapat dirancang dan dikembangkan secara linear maupun secara interaktif. Multimedia 
pembelajaran  linier suatu multimedia pembelajaran yang tidak dilengkapi dengan alat 
pengontrol apapun yang dapat dioperasikan oleh penguna (peserta didik) multimedia. 
Multimedia pembelajaran interaktif adalah suatu multimedia pembelajaran yang dilengkapi 
dengan alat pengontrol sistem komputer yang dapat dioperasikan oleh peserta didik (peserta 
didik), sehingga peserta didik dapat memilih apa yang dikehendaki untuk proses 
pemberdayaan belajar selanjutnya. Dengan demikian multimedia pembelajaran interaktif 
adalah paket multimedia pembelajaran yang diaplikasikan dalam pembelajaran, dimana 
desain dan pengembanganannya sesuai dengan sistem instruksional untuk melibatkan atau 
memperdayakan peserta didik secara aktif di dalam proses pembelajaran.
21
H.  Prinsip-prinsipMultimedia Pembelajaran
Mayer (2009) menyatakan prinsip multimedia pembelajaran adalah peserta didik dapat
belajar lebih baik dengan gambar dan kata-kata dari pada hanya kata-kata saja. Kemudian 
Mayer mengklarifikasikan prinsip multimedia menjadi beberapa jenis yaitu:
a. Prinsip kedekatan ruang: gambar dan kata-kata akan lebih baik jika di  letakkan 
berdekatan, 
b. Prinsip kedekatan waktu: gambar dan kata-kata yang berkaitan dapat disajikan secara 
bersamaan, 
c. Prinsip koherensi: tidak perlu menambah unsur media lain yang kurang relevan dengan 
materi yang disampaikan, membuat multimedia pembelajaran yang singkat padat dan 
jelas,
d. Prinsip modalitas: saat membuat animasi dalam multimedia pembelajaran, baiknya kata-kata disajikan dalam bentuk suara narasi bukan berupa teks on screen.
e. Prinsip redundansi: animasi dalam multimedia cukup diberi suara narasi, dan tidak perlu di 
tambah teks yang mengulangi narasi.
f.  Prinsip perbedaan individual: multimedia membantu peserta didik yang berpengetahuan 
kurang (atau rendah) untuk lebih memahami materi pembelajaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar