Hari Asyura atau 10 Muharram bagi sebagian umat islam merupakan salah satu hari yang mulia, sebab beberapa hadist nabi dan berbagai atsar popular menukilkan beberapa peristiwa penting di hari tersebut. Di Indonesia, sebagian besar masyarakat punya tradisi tersendiri di hari Asyura, diantaranya berpuasa, memperbanyak sedekah, hingga menyantuni anak yatim.
Dalam literature sejarah, peringatan hari Asyura muncul pertama kali di kalangan para pecinta keturunan Nabi, yang kemudian menamakan kelompok atau madzhab Syi’ah. Bagi penganut madzhab Syi’ah, dan sebagian kelompok Islam lainnya,
Asyura diperingati sebagai hari berkabung. Sebab pada tanggal tersebut, Sayyid Hussain Bin Ali, cucu dari Nabi Muhammad Saw, terbunuh dalam perang saudara di lapangan Karbala. Gugurnya Hussain (dalam sejarah-sejarah Syi’ah) kemudian diikuti dengan pembantaian terhadap para pengikutnya, termasuk kerabat dan para putera Hussain.
Terbunuhnya cucu Nabi itu, secara praktis mengukuhkan kedudukan Yazid bin Muawwiyah sebagai Khalifah bagi Negara Islam yang saat itu terbentang dari semenannjung Arabia hingga Andalusia (Spanyol). Yazid menjadi pemimpin tunggal umat Islam saat itu, ia meneruskan kepemimpinan ayahnya Muawwiyah bin Abu Sufyan, yang merebut kedudukan Khalifah Ali Bin Abu Thalib, melalui dialektika politik saat gencatan senjata dalam perang Shiffin.
Cerita duka yang dialami Keluarga Ali bin Abi Thalib secara bertubi itu, kemudian memunculkan dendam terselubung di kalangan Syi’ah dan sebagian umat Islam lainnya saat itu. Terlebih sikap kepemimpinan Yazid dan para penggantinya (yang dalam sejarah Islam kemudian dinamakan Bani Umayyah) yang cenderung otoriter dan bertangan besi.
Pada masa-masa kepemimpinan Bani Umayyah inilah kemudian muncul kerinduan terhadap pemimpin yang adil. Para ulama Syi’ah saat itu memanfaatkan kerinduan terhadap pemimpin yang adil itu, dengan mempopulerkan hadist nabi tentang kedatangan Imam Mahdi, sebagai pemimpin akhir zaman yang akan mengalahkan Dajjal pada tahun-tahun menjelang hari kiamat nanti.
Kerinduan terhadap Imam Mahdi ini menjadi doktrin ampuh untuk menguatkan posisi para Ulama Syi’ah saat itu. Maka kemudian dikenallah Imam-imam Syiah yang diyakini sebagai pengantar datangnya Imam Mahdi.
Di kalangan Sunni, Mahdiisme juga diadopsi untuk menguatkan kesabaran masyarakat saat itu. Umat Islam dipaksa untuk menerima kepemimpinan yang dzalim, sebagai takdir yang niscaya, menjelang kedatangan Al Mahdi.
Hal ini pun terjadi di Nusantara. Para pujangga Jawa, termasuk diantaranya Ronggo warsito, mengadopsi Mahdiisme sebagai ratu adil nompo wahyu, yang kelak kan datang setelah jaman goro-goro.
Mahdiisme sebagai Doktrin Pemberontakan
Mahdiisme pada jaman penjajahan Belanda dimanfaatkan oleh para Ulama di Nusantara untuk mengukuhkan diri sebagai pemimpin pemberontakan. Sejarah mencatat, bagaimana Sultan Agung Mataram menggelari diri sebagai Hanyakrakusuma sayiddin panatagama, khalifatullah ing tanah Jawa. Sebagai pemimpin yang dijanjikan Tuhan untuk menata agama dan melawan Kedzaliman. Hal sama juga dilakukan Soekarno saat menjadi Presiden. Al-Mahdi menjadi mitos yang dimanfaatkan secara politis untuk melegitimasi kepemimpinan, sekaligus untuk melawan penguasa.
Di era Reformasi, bahkan hingga saat ini, semangat mahdiisme kembali muncul dalam kemasan yang serupa tapi tak sama. Otokrasi Soeharto, dan labilnya pemerintahan pasca Orde Baru, dimanfaatkan oleh beberapa tokoh masyarakat, ataupun para pemimpin keagamaan, untuk menumbuhkan kepercayaan politik pengikutnya, bahwa dirinya lah Pemimpin yang dijanjikan Tuhan.
Meminjam teori Kritik Habermas terhadap Positivime (Mansour Faqih, 2002), Para tokoh itu berhasil membangun instrumen pengetahuan pengikutnya, atau dengan kata lain mendoktrin umatnya, untuk kemudian mengontrol, memprediksi dan memanipulasi serta mengeksploitasi terhadap obyeknya.
Para pengusung Mahdiisme ini banyak merekrut anak-anak muda untuk dicuci otaknya, dengan berbagai penafsiran agama yang tunggal, sehingga menjadi kader yang loyal terhadap pemimpinnya. Tak heran, jika saat ini berbagai sekte keagamaan terus menjamur di Indonesia. Di berbagai daerah, kini bermunculan para tokoh yang disakralkan oleh pengikutnya, dan membentuk aliran sempalan. Sebut saja misalnya Lia Eden, aliran Salamullah atau bahkan yang terbaru, adalah Muhammad harun Syu’aib dari Kolaka Sulawesi Tenggara yang kini sedang cukup populer dunia maya, karena dalam akun Facebooknya (http://www.facebook.com/Daeng.Arung?v=info )
Harun mengklaim diri sebagai Imam Mahdi. Bukan tidak mungkin jika pada tahun-tahun ini akan bermunculan lagi berbagai organsasi sempalan, baik lokal, maupun transnasionalis yang akan memanfaatkan kelemahan politis Pemerintahan SBY, untuk membangkitkan semangat pemberontakan melalui doktrin Mahdiisme.
Doktrin yang sama juga tampaknya diterapkan oleh organisasi-organisasi transnasionalis yang bermunculan di Indonesia. Mereka mereduksi nilai-nilai keagamaan, menjadi fanatisme kelompok, Ashobiyah, hingga semangat pemberontakan terhadap negara kian berkobar. Bahkan tak jarang pula ada kelompok yang menahbiskan kekerasan terhadap umat lain adalah jihad fi sabilillah.
Menafsir ulang Semangat Perjuangan Al-Mahdi
Hal berbeda justru terjadi di negara-negara Syi’ah seperti Iran. Mahdiisme di Iran justru menjadi sarana memperkuat nasionalisme, dan menumbuhkan semangat pencarian ilmu pengetahuan untuk kepentingan umat. Para ulama Iran berhasil menafsir ulang mahdiisme menjadi semangat aristokrasi yang positif bagi negaranya.
Idealnya, Asyura menjadi pemicu bagi tokoh Islam untuk menumbuhkan semangat pengorbanan bagi sesama. Semangat membangun negara yang madani, bukan untuk membakar fanatisme kelompok, dan semangat peperangan apalagi bertindak anarkis dan melakukan teror demi kepentingan politis pemimpinnya semata. Sebab pengorbanan Al-Hussain bermakna positif, sebagai sikap heroik membela kebenaran.
Rabu, 29 Desember 2010
Sejarah Awal Lahirnya Teknologi Nuklir
Dalam kehidupan sehari-hari, reakasi nuklir jarang sekali berkaitan dengan fenomena alam. Sebagian besar fenomena alam dalam kehidupan sehari-hari hanya melibatkan gravitasi dan elektromagnetik.
Inti atom terdiri dari muatan positif dan neutron, diantara muatan positif dalam inti atom timbul gaya saling tolak (saling menjauh), namun hal ini masih dapat ditahan oleh suatu gaya sehingga inti atom bermuatan positif tersebut tidak saling menjauh (Binding energy).
Pada tahun 1896, Henri Becquerel meneliti fenomena fosforesensi pada garam uranium yang kemudian dia sebut dengan radioaktivitas. Bersama dengan sepasang ilmuawan lain, Pierre Curie dan Marie Curie, mereka telah memulai penelitian terkait dengan fenomena ini. Dalam prosesnya, mereka mengisolasi unsur radium yang sangat radioaktif. Mereka menemukan bahwa material radioaktif memproduksi gelombang yang intens, yang mereka namai dengan alfa, beta, dan gamma. Beberapa jenis radiasi yang mereka temukan mampu menembus berbagai material dan semuanya dapat menyebabkan kerusakan. Seluruh peneliti radioaktivitas pada masa itu menderita luka bakar akibat radiasi, yang mirip dengan luka bakar akibat sinar matahari, dan hanya sedikit yang memikirkan hal itu.
Fenomena baru mengenai radioaktivitas diketahui sejak adanya paten di dunia kedokteran yang melibatkan bahan radioaktiv. Secara perlahan, diketahui bahwa radiasi yang diproduksi oleh peluruhan bahan radioaktif adalah radiasi pengion. Banyak peneliti bahan radioaktif di masa lalu mati karena kanker akibat dari paparan yang mereka terima dari bahan radioaktiv.
Setelah pemahaman tentang nuklir semakin maju, pemahaman akan karakteristik atau sifat radioaktifitas menjadi lebih baik. Beberapa inti atom yang berukuran besar cenderung tidak stabil, sehingga terjadi peluruhan sampai terbentuknya inti stabil. Pemahaman akan tiga bentuk radiasi yang ditemukan oleh Becquerel dan Curie juga semakin baik, peluruhan alfa terjadi ketika inti atom melepaskan partikel alfa, yaitu dua proton dan dua neutron, setara dengan inti atom helium; peluruhan beta terjadi ketika pelepasan partikel beta, yaitu elektron berenergi tinggi;
peluruhan gamma merupakan pelepasan sinar gamma, peluruhan gamma tidak sama dengan radiasi alfa dan beta, namun merupakan radiasi elektromagnetik dengan frekuensi dan energi yang sangat tinggi. Ketiga jenis radiasi terjadi secara alami, dan radiasi sinar gamma adalah yang paling berbahaya dan sulit ditahan.
Reaksi Nuklir Fisi
Reaksi Nuklir Fisi adalah proses pembelahan inti menjadi atom-atom yang lebih kecil dan disertai dengan pelepasan energi dan neutron. Jika neutron ini ditangkap oleh inti atom lainnya yang tidak stabil , makan inti tersebut akan membelah juga, memicu reaksi berantai. Jika jumlah rata-rata neutron yang diepaskan per inti atom yang melakukan fisi ke inti atom lain disimbolkan dengan k, maka nilai k yang lebih besar dari 1 menunjukkan bahwa reaksi fisi melepaskan lebih banyak neutron dari pada jumlah yang diserap, sehingga dapat dikatakan bahwa reaksi ini dapat berdiri sendiri. Massa minimum dari suatu material fisi yang mampu melakukan reaksi fisi berantai yang dapat berdiri sendiri dinamakan massa kritis.
Ketika neutron ditangkap oleh inti atom yang tepat, fisi akan terjadi dengan segera, atau inti atom akan berada dalam kondisi yang tidak stabil dalam waktu yang singkat.
Ketika ditemukan pada masa Perang Dunia II, hal ini memicu beberapa negara untuk memulai program penelitian mengenai kemungkinan membuat bom atom, sebuah senjata yang menggunakan reaksi fisi untuk menghasilkan energi yang sangat besar, jauh melebihi peledak kimiawi (TNT, dsb). Proyek Manhattan, dijalankan oleh Amerika Serikat dengan bantuan Inggris dan Kanada, mengembangkan senjata fisi yang digunakan untuk melawan Jepang di tahun 1945. Selama proyek tersebut, reaktor fisi pertama dikembangkan, meski awalnya digunakan hanya untuk pembuatan senjata dan bukan untuk menghasilkan listrik untuk masyarakat.
Namun, jika neutron yang digunakan dalam reaksi fisi dapat dikendalikan, misalnya dengan bahan penyerap neutron, dan kondisi tersebut masih menjadikan massa material nuklir berstatus kritis, maka reaksi fisi dapat dikendalikan. Hal inilah yang yang mendasari prinsip kerja reaktor nuklir. Neutron bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, untuk mengendalikan neutro agar tidak berekasi dengan inti yang lain, maka neutron harus diperlambat dengan menggunakan bahan penyerap neutron sebelum akhirnya mereka bisa dengan mudah ditangkap. Saat ini, metode seperti ini umum digunakan untuk menghasilkan listrik.
Reaksi Nuklir Fusi
Jika dua inti atom bertabrakan, terdapat kemungkinan terjadi reaksi nuklir fusi. Proses ini akan melepas atau menyerap energi. Jika inti atom hasil tabrakan lebih ringan dari besi, maka pada umumnya rekasi nuklir fusi akan melepaskan energi, namun jika inti atom hasil tabrakan lebih berat dari besi, maka pada umumnya reaksi nuklir fusi akan menyerap energi. Proses reaksi nuklir fusi yang paling sering terjadi adalah pada bintang, energi reaksi nuklir fusi yang terjadi pada bintang dihasilkan dari rekasi nuklir fusi hidrogen dan menghasilkan helium. Dari reaksi nuklir fusi, bintang-bintang juga membentuk unsur unsur ringan seperti lithium dan kalsium melalui stellar nucleosynthesis.
Proses alami dari astrofisika ini bukanlah contoh dari teknologi nuklir. Karena daya dorong energi yang tinggi dari inti atom, fusi sulit untuk dilakukan dalam keadaan terkendali (contoh: bom hidrogen). Fusi terkontrol bisa dilakukan dalam akselerator partikel, yang merupakan suatu system bagaimana unsur sintetis dibuat. Kesulitan teknis dan teoritis menghalangi pengembangan teknologi fusi nuklir untuk kepentingan sipil, meski penelitian mengenai teknologi ini di seluruh dunia terus berlanjut sampai sekarang.
Fusi nuklir secara teoritis mulai diteliti ketika Perang Dunia II, ketika para peneliti Proyek Manhattan yang dipimpin oleh Edward Teller menelitinya sebagai metode pembuatan bom. Proyek ini ditinggalkan setelah menyimpulkan bahwa hal ini memerlukan reaksi fisi untuk mengaktifkan bom hidrogen. Hal ini terus terjadi hingga pada tahun 1952, peledakkan bom hidrogen pertama dilakukan. Disebut bom hidrogen karena memanfaatkan reaksi antara deuterium dan tritium, isotop dari hidrogen. Reaksi fusi menghasilkan energi lebih besar per satuan massa material dibandingkan reaksi fisi, namun lebih sulit menjadikannya bereaksi secara berantai.
emka@
Inti atom terdiri dari muatan positif dan neutron, diantara muatan positif dalam inti atom timbul gaya saling tolak (saling menjauh), namun hal ini masih dapat ditahan oleh suatu gaya sehingga inti atom bermuatan positif tersebut tidak saling menjauh (Binding energy).
Pada tahun 1896, Henri Becquerel meneliti fenomena fosforesensi pada garam uranium yang kemudian dia sebut dengan radioaktivitas. Bersama dengan sepasang ilmuawan lain, Pierre Curie dan Marie Curie, mereka telah memulai penelitian terkait dengan fenomena ini. Dalam prosesnya, mereka mengisolasi unsur radium yang sangat radioaktif. Mereka menemukan bahwa material radioaktif memproduksi gelombang yang intens, yang mereka namai dengan alfa, beta, dan gamma. Beberapa jenis radiasi yang mereka temukan mampu menembus berbagai material dan semuanya dapat menyebabkan kerusakan. Seluruh peneliti radioaktivitas pada masa itu menderita luka bakar akibat radiasi, yang mirip dengan luka bakar akibat sinar matahari, dan hanya sedikit yang memikirkan hal itu.
Fenomena baru mengenai radioaktivitas diketahui sejak adanya paten di dunia kedokteran yang melibatkan bahan radioaktiv. Secara perlahan, diketahui bahwa radiasi yang diproduksi oleh peluruhan bahan radioaktif adalah radiasi pengion. Banyak peneliti bahan radioaktif di masa lalu mati karena kanker akibat dari paparan yang mereka terima dari bahan radioaktiv.
Setelah pemahaman tentang nuklir semakin maju, pemahaman akan karakteristik atau sifat radioaktifitas menjadi lebih baik. Beberapa inti atom yang berukuran besar cenderung tidak stabil, sehingga terjadi peluruhan sampai terbentuknya inti stabil. Pemahaman akan tiga bentuk radiasi yang ditemukan oleh Becquerel dan Curie juga semakin baik, peluruhan alfa terjadi ketika inti atom melepaskan partikel alfa, yaitu dua proton dan dua neutron, setara dengan inti atom helium; peluruhan beta terjadi ketika pelepasan partikel beta, yaitu elektron berenergi tinggi;
peluruhan gamma merupakan pelepasan sinar gamma, peluruhan gamma tidak sama dengan radiasi alfa dan beta, namun merupakan radiasi elektromagnetik dengan frekuensi dan energi yang sangat tinggi. Ketiga jenis radiasi terjadi secara alami, dan radiasi sinar gamma adalah yang paling berbahaya dan sulit ditahan.
Reaksi Nuklir Fisi
Reaksi Nuklir Fisi adalah proses pembelahan inti menjadi atom-atom yang lebih kecil dan disertai dengan pelepasan energi dan neutron. Jika neutron ini ditangkap oleh inti atom lainnya yang tidak stabil , makan inti tersebut akan membelah juga, memicu reaksi berantai. Jika jumlah rata-rata neutron yang diepaskan per inti atom yang melakukan fisi ke inti atom lain disimbolkan dengan k, maka nilai k yang lebih besar dari 1 menunjukkan bahwa reaksi fisi melepaskan lebih banyak neutron dari pada jumlah yang diserap, sehingga dapat dikatakan bahwa reaksi ini dapat berdiri sendiri. Massa minimum dari suatu material fisi yang mampu melakukan reaksi fisi berantai yang dapat berdiri sendiri dinamakan massa kritis.
Ketika neutron ditangkap oleh inti atom yang tepat, fisi akan terjadi dengan segera, atau inti atom akan berada dalam kondisi yang tidak stabil dalam waktu yang singkat.
Ketika ditemukan pada masa Perang Dunia II, hal ini memicu beberapa negara untuk memulai program penelitian mengenai kemungkinan membuat bom atom, sebuah senjata yang menggunakan reaksi fisi untuk menghasilkan energi yang sangat besar, jauh melebihi peledak kimiawi (TNT, dsb). Proyek Manhattan, dijalankan oleh Amerika Serikat dengan bantuan Inggris dan Kanada, mengembangkan senjata fisi yang digunakan untuk melawan Jepang di tahun 1945. Selama proyek tersebut, reaktor fisi pertama dikembangkan, meski awalnya digunakan hanya untuk pembuatan senjata dan bukan untuk menghasilkan listrik untuk masyarakat.
Namun, jika neutron yang digunakan dalam reaksi fisi dapat dikendalikan, misalnya dengan bahan penyerap neutron, dan kondisi tersebut masih menjadikan massa material nuklir berstatus kritis, maka reaksi fisi dapat dikendalikan. Hal inilah yang yang mendasari prinsip kerja reaktor nuklir. Neutron bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, untuk mengendalikan neutro agar tidak berekasi dengan inti yang lain, maka neutron harus diperlambat dengan menggunakan bahan penyerap neutron sebelum akhirnya mereka bisa dengan mudah ditangkap. Saat ini, metode seperti ini umum digunakan untuk menghasilkan listrik.
Reaksi Nuklir Fusi
Jika dua inti atom bertabrakan, terdapat kemungkinan terjadi reaksi nuklir fusi. Proses ini akan melepas atau menyerap energi. Jika inti atom hasil tabrakan lebih ringan dari besi, maka pada umumnya rekasi nuklir fusi akan melepaskan energi, namun jika inti atom hasil tabrakan lebih berat dari besi, maka pada umumnya reaksi nuklir fusi akan menyerap energi. Proses reaksi nuklir fusi yang paling sering terjadi adalah pada bintang, energi reaksi nuklir fusi yang terjadi pada bintang dihasilkan dari rekasi nuklir fusi hidrogen dan menghasilkan helium. Dari reaksi nuklir fusi, bintang-bintang juga membentuk unsur unsur ringan seperti lithium dan kalsium melalui stellar nucleosynthesis.
Proses alami dari astrofisika ini bukanlah contoh dari teknologi nuklir. Karena daya dorong energi yang tinggi dari inti atom, fusi sulit untuk dilakukan dalam keadaan terkendali (contoh: bom hidrogen). Fusi terkontrol bisa dilakukan dalam akselerator partikel, yang merupakan suatu system bagaimana unsur sintetis dibuat. Kesulitan teknis dan teoritis menghalangi pengembangan teknologi fusi nuklir untuk kepentingan sipil, meski penelitian mengenai teknologi ini di seluruh dunia terus berlanjut sampai sekarang.
Fusi nuklir secara teoritis mulai diteliti ketika Perang Dunia II, ketika para peneliti Proyek Manhattan yang dipimpin oleh Edward Teller menelitinya sebagai metode pembuatan bom. Proyek ini ditinggalkan setelah menyimpulkan bahwa hal ini memerlukan reaksi fisi untuk mengaktifkan bom hidrogen. Hal ini terus terjadi hingga pada tahun 1952, peledakkan bom hidrogen pertama dilakukan. Disebut bom hidrogen karena memanfaatkan reaksi antara deuterium dan tritium, isotop dari hidrogen. Reaksi fusi menghasilkan energi lebih besar per satuan massa material dibandingkan reaksi fisi, namun lebih sulit menjadikannya bereaksi secara berantai.
emka@
Langganan:
Postingan (Atom)