Sabtu, 06 Februari 2010

INDUSTRIALISASI PENDIDIKAN

INDUSTRIALISASI PENDIDIKAN
A. PENDAHULUAN
Pada zaman sekarang, banyak sekolah yang terjebak pada semacam arogansi, sikap percaya diri yang berlebihan dengan berbagai ilusi konsep - konsep sekolah unggulan, sekolah pemimpin masa depan, atau lebih parah lagi pendidikan unggul. Birokrat-birokrat di lembaga - lembaga pengajaran formal itu merasa mampu melakukan segalanya asal di bayar. Itu sebabnya sekolah - sekolah dikatakan terbaik, tetapi sebenarnya tidak jelas bedanya dengan termahal. Dengan demikian lembaga pengajaran formal itu melembagakan ajaran sesat bahwa pendidikan yang baik adalah lembaga yang mahal. Mahal sama dengan bermutu, bahkan jika uang sekolahnya murah artinya buruk atau tidak bermutu.
Paradigma semacam ini dipertegas oleh perusahaan yang dipimpin oleh orang yang sama sekali tidak mengerti makna pengajaran dan pendidikan sejati kecuali sekedar mencari atau membeli ketrampilan dan kepribadian para sarjana dari sekolah - sekolah mahal. Bila mereka mendapatkan kenyataan bahwa para alumni sekolah terbaik itu ternyata tidak mampu bekerja secara produktif, maka dikatakan tidak siap pakai, lalu sekolah diminta menyesuaikan kurikulum yang sedemikian rupa agar dapat menciptakan mesin- mesin industri yang siap pakai.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa industrialisasi pendidikan merupakan salah satu sistem yang gunakan oleh pihak tertentu yang mana pendidikan dijadikan sumber untuk dijadikan keuntungan bisnis. Selain istilah industrialisasi pendidikan kita juga mengenal Komoditasi Pendidikan yaitu menjadikan pendidikan sebagai komoditi atau barang untuk diperdagangkan demi mendapatkan keuntungan bisnis . Dan juga komersialisasi Pendidikan yang menjadikan sistem pendidikan di sekolah menjadi layaknya pasar yaitu tempat menjual belikan barang atau jasa demi mendapatkan keuntungan bisnis seperti adanya study tour jual beli buku pelajaran dan lain sebagainya.
B. Fenomena Sekolah Unggulan.
Kelahiran sekolah unggulan pada dasarnya tidak terlepas dari upaya peningkatan dan pengembangan kualitas SDM, terutama menyongsong pembangunan jangka panjang II dan diresmikannya program wajib belajar 9 tahun. Salah satu tujuannya adalah menjaring sekaligus mengembangkan kader bangsa yang baik dalam artian memiliki kelebihan dari berbagai aspek dibandingkan dengan kader – kader bangsa pada umumnya sehingga ia mampu mengantisipasi dan menjawab berbagai tantangan zaman .
Namun, Sekolah unggulan ini perlu dicermati kembali, karena ada yang kurang kata unggul menyiratkan super otoritas atas sekolah yang lain, sekaligus menunjukkan kesombongan intelektual yang sengaja ditanamkan lingkungan sekolah atas sekolah yang lain. Dalam konsep sekolah unggulan yang ada sekarang diterapkan sekedar untuk menciptakan prestasi siswa, dirancang kurikulum yang sarat muatan , diajar guru – guru yang berkualitas, dengan sarana yang bagus, tapi biayanya sangat mahal. Padahal sekolah unggulan yang sebenarnya, dapat dicapai dengan seluruh sumber daya sekolah dimanfaatkan secara optimal. Mulai dari tenaga administrasi, pengembangan kurikulum, tenaga pendidikan, termasuk masyarakat harus dilibatkan secara berdaya guna, karena sumberdaya itu akan dapat menciptakan iklim dan kultur yang mampu membentuk keunggulan sekolah .
C. Tipe – Tipe dan Definisi Sekolah Unggulan.
Untuk mengetahui akan definisi dari sekolah unggulan, sebaiknya kita mengetahui akan konsep tentang sekolah unggulan.
1. Tipe Pertama, Yaitu dimana sekolah menerima dan menyeleksi secara ketat siswa yang masuk dengan kriteria prestasi akademik yang tinggi, meskipun proses belajar dan mengajar tidak terlalu luar biasa bahkan cenderung ortodok, namun dipastikan karena input yang unggul maka output yang hasilkan juga unggul.
2. Tipe Kedua, Yaitu sekolah yang menawarkan fasilitas yang serba mewah, yang ditebus dengan SPP yang sangat tinggi, otomatis prestasi akademik yang tinggi bukan menjadi acuan input untuk diterima di sekolah ini, namun sekolah ini biasanya mengandalkan beberapa jurus pola pelajar dengan membawa pendekatan teori tertentu sebagai daya tariknya, sehingga output yang dihasilkan dapat sesuai dengan yang dijanjikan.
3. Tipe Ketiga, yaitu sekolah yang menekankan pada iklim belajar yang positif di lingkungan sekolah. Menerima dan mampu memproyek siswa yang masuk sekolah tersebut dengan prestasi rendah menjadi lulusan yang bermutu tinggi .
Jadi dengan kata lain sekolah unggulan adalah sekolah yang mampu membawa setiap siswa mencapai kemampuannya secara terukur dan mampu ditunjukkan prestasinya sekaligus potensi psikis, etika, moral, religius , emosi, spirit, kreatifitas serta intelegensinya.
Akan tetapi realita yang terjadi sekolah unggulan itu tidak otomatis mencerminkan realitas empirisnya sebagai sekolah yang unggul, sebab antara unggulan dan unggul itu merupakan dua hal yang berbeda. Artinya sebutan itu dapat menyesatkan warga masyarakat yang tidak kritis. Masyarakat akan memasuki sekolah unggulan itu dengan maksud untuk mencapai kualitas yang maksimal, ternyata hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Memang betul ada sekolah unggulan yang unggul, tapi tidak semua sekolah unggulan adalah sekolah unggul. Wajar bila kemudian sekolah – sekolah yang masuk kategori sekolah unggulan, tidak secara otomatis ke dalam daftar sekolah unggul berdasarkan pencapaian nilai akhir ujian nya .
D. Dimensi Keunggulan.
Dimensi keunggulan dalam sekolah paling tidak meliputi hal – hal sebagai berikut:
1. Para calon siswa yang akan memasuki sekolah yang bersangkutan diseleksi secara ketat yang menggunakan kriteria tertentu dan prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan . Kreteria umum yang dipakai adalah prestasi belajar superior dan skor psikotes.
2. sarana dan prasarana diarahkan untuk menunjang secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa serta penyaluran bakat dan minatnya, baik dalam kegiatan kurikulum maupun ekstra kurikulum. Sarana adalah segala sesuatu yang mendukung secara langsung terhadap kelancaran proses belajar mengajar misal media pembelajaran dan alat - alat pelajaran, sedang prasarana adalah segala sesuatu yang secara tidak langsung dapat mendukung keberhasilan proses pembelajaran, misal penerangan sekolah, kamar kecil dan lain – lain .
3. Lingkungan belajar yang kondusif untuk berkembangnya potensi keunggulan menjadi keunggulan yang riil, baik lingkungan dalam arti fisik maupun sosial psikologis .
4. Guru yang kreatif dan profesional, serta unggul baik dalam bidang penguasaan materi maupun metode pembelajaran. Guru kreatif mengandung pengertian ganda yaitu guru yang secara kreatif mampu menggunakan pelbagai pendekatan dalam proses pembelajaran dan membimbing peserta didik dan guru yang senang melakukan kegiatan- kegiatan kreatif dalam hidupnya . Untuk mendapatkan guru yang kreatif dan profesional perlu diadakannya kegiatan - kegiatan yang berupaya meningkatkan skill dan profesionalisme guru .
5. Kurikulum yang jelas, Kontek ini tetap berpegang pada kUrikulum Nasional yang standar, namun dilakukan semacam modifikasi secara maksimal sesuai dengan tuntutan belajar peserta didik. Misalnya dengan menerapkan kurikulum teknologi yang menekankan pad efektifitas program metode dan material untuk mencapai suatu manfaat dan keberhasilan. Teknologi mempengaruhi kurikulum dalam dua cara yaitu aplikasi dan teori. Aplikasi teknologi merupakan suatu rencana penggunaan beragam alat dan media, atau tahapan basis intruksi, sebagai teori teknologi digunakan alam pengembangan evaluasi material kurikulum dan instruksional .
6. Rentang waktu belajar di sekolah lebih panjang atau lebih lama dibandingkan dengan sekolah - sekolah umum lainnya. Hal ini salah satunya bertujuan untuk mengantisipasi kekurangan jam pelajaran agama di sekolah - sekolah umum .
7. Partisipasi orang tua atau masyarakat yang aktif dalam kegiatan sekolah, kontribusi orang tua dalam kegiatan sekolah misalnya di libatkannya orang tua dalam penyusunan kurikulum sekolah, sehingga orangtua memiliki tanggung jawab yang sama di rumah dalam mendidik anak sesuai tujuan yang telah dirumuskan, sehingga terjadi sinkronisasi antar pola pendidikan di sekolah dengan pola pendidikan di rumah, selain itu orang tua diberi kesempatan untuk bersama sama menganalisa seluruh infrastruktur yang ada di sekolah baik menyangkut SDM, sarana prasarana, sistem informasi dan semua yang dianggap punya keterkaitan .
8. Jaringan organisasi yang solid , baik organisasi guru atau orangtua. Hal ini dapat menambah wawasan dan kemampuan tiap anggotanya untuk belajar dan terus berkembang, serta perlu pula dialog antar organisasi tersebut, misalnya forum orangtua murid dengan guru dalam menjelaskan harapan dari guru dan kenyataan yang dialami guru dalam kelas.
9. Proses belajar dan mengajar yang berkualitas , serta hasilnya selalu dapat dipertanggungjawabkan kepada siswa, lembaga dan masyarakat .
E. Kelemahan - Kelemahan Sekolah unggulan.
Kalau kita cermati bersama secara mendalam, banyak sekolah unggulan yang secara pedagogis menyesatkan, bahkan merugikan bagi pendidikan. Adapun diantara kelemahan dari sekolah unggulan yaitu :
1. Sekolah Unggulan hanya mengandalkan legitimasi pemerintah dan bukan inisiatif masyarakat, sehingga penetapan sekolah unggulan cenderung bermuatan politik, daripada edukatif. Kadang ujung ujungnya juga uang, kalau sekolah unggulan didasarkan pad pengakuan masyarakat, pemerintah tidak perlu mengucurkan biaya besar, biar masyarakat yang memikirkan biaya itu.
2. Sekolah hanya melayani golongan kaya, sementara golongan miskin masih terpinggirkan meski prestasi akademiknya bagus. Untuk mengikuti kelas unggulan, selain memiliki kemampuan akademis anak didik harus membayar puluhan juta rupiah, sehingga penyelenggaraan sekolah unggulan sering kali bertentangan dengan prinsip Equity, yakni terbukanya akses dan kesempatan yang sama bagi siswa untuk memperoleh pendidikan di semua jenjang, jenis dan tingkatan.
3. Profil sekolah unggulan hanya dilihat dari karakteristik prestasi yang berupa NEM tinggi, bisa dibayar mahal, tenaga pendidik baik, sarana lengkap, dana sekolah besar dan kegiatan belajar mengajar berikut pengelolaannya bagus, diproses di tempat bagus dengan cara bagus hingga outputnya bagus, seharusnya yang di kategori sekolah unggulan adalah anak didik dari warga miskin tapi proses di sekolah baik, dengan cara baik, untuk itu perlu redefinisi dan reorientasi sekolah unggulan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar